Beberapa Cara Menghadapi Risiko yang Dapat Terjadi

Dalam ilmu manajemen risiko atau risk management, kita mengenal beberapa cara menghadapi risiko yang dapat terjadi pada semua aspek kehidupan. Cara-cara tersebut, adalah:

Beberapa Cara Menghadapi Risiko yang Dapat Terjadi

1. Menghindari risiko (risk avoidance)

Kalau kita merokok, ada risiko terkena penyakit kanker paru atau penyakit jantung (kardiovaskuler). Salah satu cara menghindari terjadinya risiko terkena penyakit paru atau jantung tersebut adalah menjauhi bahan-bahan karsinogen (yang menyebabkan kanker) yang terkandung dalam rokok. Kalau kita tidak ingin mendapat kecelakaan pesawat terbang, jangan pernah naik pesawat terbang.

Banyak orang melakukan teknik manajemen ini untuk risiko besar yang kasat mata. Seseorang akan menghindari naik gunung yang terjal tanpa alat pengaman karena risiko jatuh ke jurang dapat dilihat langsung oleh mata. Tetapi banyak orang tidak menyadari bahwa risiko tersebut dapat muncul 20-30 tahun seperti yang terjadi pada risiko kanker paru atau kelainan jantung akibat merokok, sehingga kebiasaan itu dianggap tidak berisiko atau berisiko rendah.

Tidak semua orang mampu mengenali, merasakan, dan menghindari risiko. Ada kelompok yang hanya mampu mengenali dan merasakan, namun tidak mampu menghindarinya. Karenanya, manajemen risiko dengan cara menghindari saja tidak cukup untuk melindungi seseorang dari risiko yang akan terjadi.

Beberapa Cara Menghadapi Risiko yang Dapat Terjadi

2. Mengurangi risiko (risk reduction)

Jika upaya menghindari risiko tidak mungkin dilakukan, manajemen risiko dapat dilakukan dengan cara mengurangi risiko (risk reduction). Contohnya, kita membuat jembatan penyeberangan atau lampu khusus penyeberangan untuk mengurangi jumlah orang yang menderita kecelakaan lalu lintas. Dengan demikian, pengemudi kendaraan akan berhati-hati. Atau jika ada jembatan penyeberangan, maka risiko tertabrak mobil akan menjadi lebih kecil, tetapi tidak meniadakannya sama sekali.

Seorang pengendara sepeda motor diwajibkan memakai helm karena tidak ada satu orang pun yang bisa terhindar seratus persen dari kecelakaan berkendara sepeda motor. Jika helm digunakan, maka beratnya risiko (severity of risk) dapat dikurangi, sehingga seseorang dapat terhindar dari kematian atau gegar otak yang memerlukan biaya perawatan sangat besar. Biaya perawatan intensif selama tujuh hari di rumah sakit bagi penderita gegar otak dapat mencapai lebih dari Rp 20 juta.

Tetapi, bagi kebanyakan pengendara sepeda motor, yang belum pernah menyaksikan betapa dahsyatnya akibat gegar otak dan berapa mahalnya biaya perawatan akibat gegar otak, tidak menyadari hal itu. Kalaupun mereka mengenakan helm, seringkali sekedar untuk menghindari tekanan penalti akibat pelanggaran (tilang) peraturan lalu lintas oleh polisi yang sesungguhnya merupakan risiko kecil (yang hanya sebesar ratusan ribu rupiah saja).

Imunisasi terhadap penyakit hepatitis (radang hati), yang dapat berkembang menjadi kanker hati yang memerlukan perawatan dengan biaya mahal serta dapat mematikan pada usia muda, merupakan suatu upaya pengurangan risiko. Karena perilaku manusia yang tidak selalu menyadari risiko besar itu, maka mekanisme menurunkan risiko saja tidak memadai. lmunisasi hepatitis tidak menjamin seratus persen setiap orang yang telah diimunisasi pasti tidak terhindar dari penyakit kanker hati. Masih diperlukan manajemen risiko yang lain.

Beberapa Cara Menghadapi Risiko yang Dapat Terjadi

3. Memindahkan risiko (risk transfer)

Sebaik apa pun upaya mengurangi risiko yang telah kita lakukan, tidak menjamin kita akan 100% terbebas dari segala risiko. Karena itu, kita perlu melindungi diri kita dengan tameng lapis ketiga dari manajemen risiko yaitu mentransfer risiko diri kita ke pihak lain. Kita dapat memindahkan seluruh atau sebagian risiko kepada pihak lain (yang dapat berupa perusahaan asuransi, badan penyelenggara jaminan sosial, pemerintah, atau badan sejenis lain) dengan membayar sejumlah premi atau iuran, baik dalam jumlah nominal tertentu maupun dalam jumlah relatif, berupa persentase dari gaji atau harga pembelian (transaksi).

Dengan teknik manajemen risiko ini, risiko yang ditransfer hanyalah risiko finansial, bukan seluruh risiko. Ada sebagian risiko yang tidak bisa ditransfer, misalnya rasa sakit atau perasaan kehilangan yang dirasakan oleh penderita. lni merupakan prinsip yang sangat fundamental di dalam asuransi.

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa setiap saat sesungguhnya risiko kematian, di mana risiko kematian itu yang berpotensi menyebabkan ketiadaan dana bagi ahli warisnya untuk menjalani hidup sehari-hari atau untuk membiayai pendidikan anak, dapat ditransfer dengan membeli asuransi jiwa. ltulah sebabnya, kebanyakan orang di negara berkembang tidak membeli asuransi jiwa, karena banyak orang tidak melihat kematian sebagai suatu risiko finansial bagi ahli warisnya.

4. Mengambil risiko (risk assumption)

Jika risiko tidak bisa dihindari, tidak bisa dikurangi, dan tidak dapat ditransfer akibat ketidakmampuan seseorang atau tidak ada perusahaan yang dapat menerima transfer risiko tersebut, maka alternatif terakhir adalah mengambil atau menerima risiko (sebagai takdir).

Sekian info mengenai Beberapa Cara Menghadapi Risiko yang Dapat Terjadi, semoga post ini mencerahkan kalian. Mohon artikel ini dishare agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Sumber: Jurus Pintar Asuransi, Sigma

 

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

loading...

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.